Kegiatan Sambang Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Crita Nirwana digelar sebagai respons atas maraknya persoalan literasi serta kasus perundungan (bullying) yang dialami anak-anak di lingkungan sekitar. Isu anti-bullying dipilih secara khusus setelah adanya permohonan dari orang tua korban bullying yang terjadi di lingkungan sekolah.
Panitia lokal menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berangkat dari kepedulian terhadap rendahnya minat baca, tetapi juga dari kebutuhan nyata anak-anak akan ruang aman yang mendukung kesehatan sosial dan emosional mereka.
“TBM hadir sebagai ruang aman, tempat anak dan remaja diterima tanpa stigma, tanpa ejekan, dan tanpa kekerasan verbal,” ujar Vira, panitia lokal kegiatan.
Menurutnya, suasana TBM yang non-formal serta kehadiran relawan yang empatik membuat anak-anak lebih berani mengekspresikan diri, berbagi cerita, dan menyampaikan perasaan tanpa rasa takut dihakimi. Melalui buku cerita anak, media visual, diskusi tematik, hingga permainan literasi emosi, isu bullying dibahas secara reflektif dan ramah anak.
Hal senada disampaikan Alifya Varanita, salah satu panitia kegiatan. Ia menegaskan bahwa TBM Crita Nirwana bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang tumbuh bersama.
“Di sini anak-anak bisa membaca, berdiskusi, bahkan curhat. TBM menjadi tempat mereka merasa didengar dan diterima,” jelas Alifya.
Sementara itu, Sekretaris PD Forum TBM Kabupaten Sidoarjo, Zima Arwana, menjelaskan bahwa TBM memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan ramah anak berbasis komunitas. Menurutnya, kedekatan relawan dengan anak memungkinkan TBM berperan dalam deteksi dini kasus bullying.
“Relawan TBM sering kali menjadi pendengar pertama bagi anak-anak. Dari situ, TBM bisa memberikan dukungan awal dan mengarahkan pada bantuan lanjutan sebelum masalah berkembang lebih serius,” ungkap Zima.
Ia menambahkan, TBM juga berfungsi sebagai sarana pendidikan sosial-emosional berbasis komunitas melalui kegiatan literasi emosi, diskusi relasi sehat, serta penanaman nilai empati dan penghargaan terhadap perbedaan.
Kegiatan Sambang TBM Crita Nirwana melibatkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari pengurus RW dan RT, takmir masjid, Karang Taruna, Forum Anak, komunitas literasi, hingga dukungan dari dinas terkait. Kolaborasi ini dinilai penting untuk membangun ekosistem lingkungan ramah anak dan anti-kekerasan.
“Masalah pendidikan karakter dan perlindungan anak tidak bisa diselesaikan sendiri. Ketika komunitas, warga, dan pemerintah bergerak bersama, dampaknya jauh lebih kuat,” tambah Vira.
Respons masyarakat terhadap kegiatan ini terbilang positif. Anak-anak terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan seperti lapak buku, membaca bersama, permainan edukatif, dan diskusi ringan. Orang tua dan warga pun memberikan dukungan dengan menyediakan fasilitas serta membantu sosialisasi kegiatan melalui forum-forum warga dan pengurus lingkungan.
Ke depan, panitia lokal berharap kegiatan literasi di TBM Crita Nirwana dapat dilaksanakan secara rutin, terutama saat libur sekolah, dengan mengangkat tema-tema yang aktual dan aplikatif. Kolaborasi aktif dengan komunitas dan pemerintah juga diharapkan terus berlanjut agar TBM benar-benar menjadi pusat literasi sekaligus ruang aman anak di lingkungan Pondok Crita Nirwana.
“Kami ingin TBM terus hidup, berkembang, dan menjangkau lebih banyak anak. Harapannya, gerakan literasi ini melahirkan generasi yang cerdas, percaya diri, dan saling menghargai,” pungkas Alifya.
Menandai pergeseran besar dari sekadar kemampuan menggunakan teknologi menuju kecakapan menyaring, memvalidasi, dan memaknai limpahan informasi yang datang tanpa henti. Di era ketika kecepatan sering mengalahkan kedalaman, literasi menjadi kompas agar manusia tidak sekadar tahu, tetapi mampu memahami dan mengambil sikap dengan bijak.
Pada titik ini, literasi tak lagi berhenti pada membaca teks, melainkan menjelma sebagai keterampilan transversal lintas disiplin: mengelola emosi, membangun empati, berpikir kritis, dan berkolaborasi dalam dunia yang sepenuhnya terdigitalisasi dan terus berubah. Dari ruang-ruang sederhana seperti TBM Crita Nirwana, fondasi literasi masa depan itu mulai ditanam mempersiapkan anak-anak bukan hanya untuk menghadapi zaman, tetapi untuk bertahan, berdaya, dan tetap manusiawi di tengah kompleksitas abad ke-22.