Jelajah Selindu Dorong Ketahanan Pangan Ramah Keluarga Berbasis Literasi Dusun

SIDOARJO — Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan pertanian yang luas. Dari halaman rumah, ruang komunitas, hingga lingkungan dusun, keluarga dapat membangun kebiasaan sederhana untuk mengenal, menanam, merawat, dan memanfaatkan sumber pangan secara mandiri.

Gagasan tersebut terus didorong Jelajah Selindu melalui gerakan literasi berbasis masyarakat yang menghubungkan keluarga, anak-anak, pemuda, komunitas, dan masyarakat dengan potensi lingkungan di sekitar mereka.

Founder Jelajah Selindu, Muhammad Makrus Sahlan, mengatakan ketahanan pangan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai persoalan produksi pangan, tetapi juga sebagai bagian dari kesadaran keluarga dalam membangun kehidupan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

“Gaya hidup sehat dan ketahanan pangan ramah keluarga merupakan bagian dari fondasi keluarga yang memiliki kesadaran kolektif dalam membangun kehidupan rumah tangga,” ujar Makrus.

Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Kebiasaan memilih makanan, memanfaatkan pekarangan, mengenalkan tanaman kepada anak, mengurangi ketergantungan terhadap sumber pangan tertentu, hingga berbagi pengetahuan tentang pangan merupakan praktik sederhana yang apabila dilakukan secara konsisten dapat berkembang menjadi kekuatan sosial.

Membaca Potensi Pangan dari Lingkungan Terdekat

Melalui program Jelajah Dusun, Jelajah Selindu mengajak masyarakat untuk melihat kembali potensi yang terdapat di lingkungan mereka. Tanaman, pangan lokal, tradisi memasak, pengetahuan bercocok tanam, hingga cerita dan pengalaman warga dipandang sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang layak dipelajari, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pendekatan tersebut kemudian dipertemukan dengan semangat Jendela Dunia, sebuah gerakan yang menempatkan pengalaman masyarakat sebagai sumber pembelajaran.

Pengalaman di lapangan tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat. Pengetahuan yang ditemukan dapat didokumentasikan menjadi cerita, bahan bacaan, arsip komunitas, hingga sumber pembelajaran kolaboratif bagi anak-anak, keluarga, pemuda, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat luas.

“Kami ingin literasi tidak hanya berhenti pada membaca buku. Masyarakat juga perlu belajar membaca lingkungan, membaca potensi dusun, membaca persoalan pangan, lalu mengubah pengetahuan itu menjadi tindakan,” kata Makrus.

Ketahanan Pangan dan Pelestarian Pengetahuan Lokal

Bagi Jelajah Selindu, ketahanan pangan memiliki hubungan erat dengan pelestarian pengetahuan lokal.

Setiap dusun memiliki tanaman, makanan, tradisi, pengalaman, dan cara hidup yang khas. Pengetahuan tersebut merupakan kekayaan sosial yang sering kali diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, perubahan gaya hidup dan perkembangan zaman dapat membuat pengetahuan tersebut perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, gerakan mengenal dan menanam pangan tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan penghijauan, pembagian bibit, atau aktivitas bercocok tanam. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar lintas generasi.

Anak-anak belajar mengenal tanaman dan sumber pangan. Keluarga belajar mengelola dan memanfaatkan lingkungan. Pemuda belajar mengorganisasi gerakan. Sementara masyarakat menjadi sumber pengetahuan yang hidup dan dapat dipelajari bersama.

Majalah Selindu Menjadi Ruang Dokumentasi

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan Majalah Selindu, yang mengangkat kekuatan budaya dan pengetahuan lokal melalui pengalaman Jelajah Dusun dan Jendela Dunia.

Majalah Selindu diarahkan menjadi ruang dokumentasi yang merekam cerita masyarakat, pengetahuan lokal, praktik baik, potensi dusun, serta berbagai pengalaman pembelajaran yang tumbuh dari komunitas.

Dengan demikian, pengetahuan yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ingatan dan pengalaman warga dapat diolah menjadi bahan bacaan yang dapat diakses dan dipelajari oleh masyarakat yang lebih luas.

Pendekatan ini sekaligus memperluas makna literasi. Literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengenali lingkungan, memahami persoalan, menemukan potensi, mengolah pengetahuan, dan menghasilkan tindakan nyata.

Dari Bibit Menjadi Gerakan

Jelajah Selindu meyakini bahwa ketahanan pangan yang berkelanjutan tidak harus selalu dimulai dari program besar. Perubahan dapat tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan keluarga dan komunitas secara konsisten.

Menanam satu jenis tanaman di halaman rumah, mengenalkan pangan lokal kepada anak, mendokumentasikan resep keluarga, menghidupkan kembali pengetahuan bercocok tanam, atau berbagi bibit dengan tetangga merupakan tindakan kecil yang memiliki nilai edukasi sekaligus sosial.

“Dari bibit menjadi pangan, dari pangan menjadi pengetahuan, dari pengetahuan menjadi gerakan,” menjadi semangat yang terus dibangun Jelajah Selindu dalam mengembangkan literasi berbasis masyarakat.

Gerakan tersebut pada akhirnya tidak hanya bertujuan membangun ketahanan pangan, tetapi juga mendorong keluarga dan masyarakat untuk semakin percaya pada potensi yang mereka miliki.

Ketika keluarga mampu mengenali sumber pangan di sekitarnya, masyarakat mampu merawat pengetahuan lokal, dan dusun mampu mengembangkan potensinya melalui kolaborasi, ketahanan pangan dapat tumbuh sebagai bagian dari budaya kehidupan sehari-hari.

Jelajah Selindu — Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.

Bagikan