Anak Adalah Penjelajah

Anak Adalah Penjelajah: Merawat Rasa Ingin Tahu sebagai Awal Pembelajaran Setiap anak dilahirkan dengan rasa ingin tahu.

Ia bertanya tentang sesuatu yang bagi orang dewasa mungkin sederhana. Ia ingin menyentuh benda yang baru dilihatnya. Ia ingin tahu mengapa hujan turun, mengapa daun berubah warna, dari mana makanan berasal, atau bagaimana sesuatu bisa bekerja.

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu sebenarnya adalah awal dari sebuah perjalanan belajar.

Anak adalah penjelajah. Tugas orang dewasa bukan mematikan rasa ingin tahu tersebut, melainkan membantu anak menemukan ruang yang aman untuk menjelajah.

Anak Belajar dengan Bertanya

Rasa ingin tahu membuat anak bergerak.

Ia melihat sesuatu, lalu bertanya.

Ia mendapatkan jawaban, kemudian menemukan pertanyaan baru.

Proses sederhana tersebut merupakan bagian penting dari pembelajaran.

Karena itu, anak tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang segera memberikan semua jawaban.

Kadang anak membutuhkan orang dewasa yang justru berkata:

“Menurutmu bagaimana?”

“Apa yang ingin kamu coba?”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Bagaimana kalau kita mencari tahu bersama?”

Pertanyaan semacam itu membuat anak menjadi bagian aktif dalam proses belajar.

Menjelajah Tidak Harus Jauh

Menjadi penjelajah tidak selalu berarti pergi ke tempat yang jauh.

Anak dapat menjelajah halaman rumah.

Ia dapat mengamati serangga.

Ia dapat mengenal tanaman.

Ia dapat bertanya kepada pedagang di sekitar rumah.

Ia dapat berjalan menyusuri dusun.

Ia dapat membaca buku tentang tempat yang baru dikunjunginya.

Bahkan perjalanan sederhana dari rumah menuju sekolah dapat menjadi pengalaman belajar ketika anak diajak memperhatikan lingkungan di sepanjang perjalanan.

Yang penting bukan jaraknya.

Yang penting adalah apa yang ditemukan dan dipelajari.

Jangan Terlalu Cepat Memberikan Jawaban

Orang dewasa sering kali ingin membantu anak dengan memberikan jawaban secepat mungkin.

Padahal, dalam banyak situasi, proses mencari jawaban justru lebih berharga daripada jawaban itu sendiri.

Ketika anak mencoba membuat sesuatu dan gagal, ia belajar.

Ketika anak mencari jalan dan harus menentukan pilihan, ia belajar.

Ketika anak berdiskusi dengan teman, ia belajar.

Ketika anak bertemu sesuatu yang berbeda dari perkiraannya, ia belajar.

Kesalahan bukan selalu tanda bahwa pembelajaran gagal.

Kadang kesalahan adalah pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam.

Jelajah Selindu dan Anak

Jelajah Selindu ingin menempatkan anak bukan sebagai objek kegiatan, tetapi sebagai subjek perjalanan.

Anak tidak hanya datang untuk mengikuti acara.

Anak datang untuk mengalami.

Ia boleh bertanya.

Ia boleh mencoba.

Ia boleh menemukan.

Ia boleh memiliki rasa penasaran.

Ia juga perlu diberi kesempatan untuk menceritakan kembali apa yang ditemukannya.

Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada kesenangan selama acara berlangsung.

Pengalaman dapat dibawa pulang menjadi percakapan, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan baru.

Menjaga Anak Tetap Menjadi Penjelajah

Dunia anak sebenarnya penuh dengan petualangan.

Yang sering terjadi adalah orang dewasa terlalu cepat menentukan apa yang harus dilihat, apa yang harus dilakukan, bahkan apa yang harus dipikirkan.

Jelajah Selindu ingin membuka ruang yang lebih luas.

Ruang untuk bertanya.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk bergerak.

Ruang untuk menemukan.

Ruang untuk gagal dan belajar kembali.

Sebab rasa ingin tahu yang dirawat hari ini dapat menjadi kemampuan berpikir kritis di masa depan.

Dan keberanian menjelajah hari ini dapat menjadi keberanian menghadapi kehidupan esok hari.

Setiap anak adalah penjelajah. Mari jangan buru-buru menghentikan perjalanannya.

Bagikan