Membaca Itu Berat Tetapi Lebih Berat Tanpa Pengetahuan

Membaca memang membutuhkan usaha. Kita harus berhenti sejenak, berkonsentrasi, memahami kata, menghubungkan informasi, dan berpikir. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berat: menjalani kehidupan tanpa pengetahuan yang cukup untuk memahami apa yang sedang kita hadapi.

Data terbaru PISA 2025 memberi gambaran penting. Skor membaca siswa Indonesia berada pada 365 poin, naik 7 poin dibandingkan PISA 2022, tetapi perubahan tersebut belum signifikan secara statistik. Rata-rata OECD berada pada 461 poin. Data ini menunjukkan bahwa tantangan kemampuan membaca dan memahami teks masih menjadi pekerjaan besar pendidikan Indonesia.

Namun, persoalan membaca tidak seharusnya diterjemahkan sekadar sebagai “anak kurang membaca buku”. Literasi membaca dalam kerangka PISA mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari teks. Artinya, yang kita bangun bukan hanya kebiasaan membuka buku, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memahami kehidupan dan mengambil keputusan.

Membaca Bukan Sekadar Menambah Jumlah Buku

Dalam kegiatan literasi, kita sering menghitung buku yang tersedia, halaman yang selesai dibaca, atau jumlah anak yang datang. Semua itu penting, tetapi belum menjawab pertanyaan paling penting: apa yang berubah setelah anak membaca?

Ketika anak membaca tentang sungai, apakah ia kemudian memperhatikan sungai di dekat rumahnya? Ketika membaca tentang tanaman, apakah ia mulai bertanya mengapa tanaman tertentu tumbuh di lingkungannya? Ketika membaca kisah seorang pengusaha, apakah ia mulai melihat warung, kebun, dapur produksi, atau bengkel di dusunnya sebagai sumber pengetahuan?

Bagi Jelajah Selindu, membaca seharusnya menjadi pintu menuju rasa ingin tahu. Buku membuka jendela, lingkungan menyediakan kenyataan, dan anak belajar menghubungkan keduanya.

Dari Buku Menuju Dusun

Pengalaman Jelajah Selindu menunjukkan bahwa mengajak anak membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. Anak membutuhkan ruang, pendamping, pengalaman, dan kesempatan untuk menghubungkan bacaan dengan kehidupan nyata.

Anak tidak hanya membaca tentang petani, tetapi dapat bertemu petani. Tidak hanya membaca tentang makanan, tetapi melihat bagaimana makanan ditanam, diolah, dijual, dan dikonsumsi. Tidak hanya membaca tentang permainan tradisional, tetapi bertemu orang yang pernah memainkannya. Tidak hanya membaca tentang lingkungan, tetapi berjalan menyusuri dusun dan melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Dengan cara itu, membaca tidak berhenti ketika buku ditutup. Apa yang dibaca menjadi pertanyaan. Pertanyaan membawa anak keluar. Apa yang ditemukan kembali menjadi bahan untuk membaca, menulis, dan bercerita.

Ketika Anak Mulai Bertanya

Salah satu tanda bahwa literasi mulai tumbuh bukan hanya ketika anak mampu menyelesaikan sebuah buku, tetapi ketika ia mulai bertanya.

Mengapa sungai ini kotor? Dari mana makanan ini berasal? Mengapa permainan ini mulai ditinggalkan? Siapa yang membuat barang ini? Mengapa pohon ini tumbuh di tempat tersebut? Bagaimana sebuah usaha kecil bisa bertahan?

Pertanyaan sederhana dapat menjadi awal penelitian kecil. Anak mengamati, mencari informasi, bertanya kepada warga, membaca sumber lain, membandingkan jawaban, kemudian menuliskan temuannya.

Pada titik ini, literasi tidak lagi menjadi kegiatan yang berdiri sendiri. Literasi menjadi cara anak memahami dunia.

Membaca Itu Berat Karena Berpikir Memang Membutuhkan Usaha

Mungkin kita terlalu sering mengatakan bahwa membaca harus selalu menyenangkan. Tentu membaca dapat menyenangkan, tetapi membaca juga membutuhkan ketekunan. Ada teks yang sulit, informasi yang membingungkan, kata yang belum dikenal, dan persoalan yang tidak dapat dipahami dalam sekali baca.

Justru di situlah nilai membaca. Membaca melatih anak untuk tinggal lebih lama bersama sebuah persoalan, mencari makna, memeriksa informasi, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Berat bukan berarti tidak penting. Karena membutuhkan usaha, membaca menjadi latihan untuk berpikir.

Yang Lebih Berat Adalah Hidup Tanpa Pengetahuan

Di tengah derasnya informasi digital, seseorang dapat melihat ribuan konten setiap hari tetapi tetap kesulitan membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, atau memahami informasi secara utuh. Karena itu, tantangan literasi hari ini bukan hanya bagaimana membuat anak membaca lebih banyak, tetapi bagaimana membuat mereka mampu memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi. Kerangka PISA 2025 bahkan semakin menempatkan kemampuan belajar dan beradaptasi di dunia digital sebagai bagian penting dari kesiapan generasi muda.

Anak tidak cukup hanya memiliki banyak informasi. Ia membutuhkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk berpikir, bertanya, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Dari Membaca Buku Menuju Membaca Kehidupan

Karena itu, Jelajah Selindu memandang literasi sebagai perjalanan yang lebih luas.

Anak membaca buku, kemudian membaca lingkungan. Ia membaca cerita keluarga, pekerjaan warga, sejarah dusun, perubahan alam, potensi lokal, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat. Setelah itu, ia belajar menuliskan kembali apa yang dilihat dan dipahaminya.

Dalam proses tersebut, anak tidak hanya menjadi pembaca. Ia tumbuh menjadi pengamat, penanya, pencatat, pencerita, dan peneliti kecil.

Inilah yang ingin dibangun melalui Jelajah Dusun & Jendela Dunia: mempertemukan bacaan dengan pengalaman, pengetahuan dengan lingkungan, dan rasa ingin tahu anak dengan kehidupan nyata di sekitarnya.

Kita Tidak Sedang Mengajak Anak Membaca Lebih Banyak

Tujuan gerakan literasi bukan sekadar membuat anak menyelesaikan lebih banyak buku. Kita ingin mereka memiliki pengetahuan untuk memahami dunia, keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk memeriksa informasi, dan kecakapan untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan.

Sebab dunia akan terus berubah. Teknologi berkembang, informasi bertambah, pekerjaan berubah, dan persoalan kehidupan semakin kompleks. Anak-anak hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengetahui sesuatu. Mereka membutuhkan kemampuan untuk terus belajar.

Membaca adalah salah satu jalan penting untuk membangun kemampuan tersebut. Maka ketika seorang anak berkata, “Membaca itu berat,” mungkin kita tidak perlu buru-buru membantahnya.

Kita cukup menjawab:

“Memang berat. Tetapi coba bayangkan betapa beratnya menjalani kehidupan tanpa pengetahuan.”

Karena membaca bukan sekadar membuka buku.

Membaca adalah membuka kemungkinan untuk memahami dunia.

ketika buku telah mengantarkan anak mengenal dunia, perjalanan berikutnya adalah mengajaknya keluar, melihat, bertanya, mengalami, dan menemukan bahwa pengetahuan ternyata hidup di mana-mana: di rumah, di keluarga, di dusun, di alam, di tangan para pekerja, di cerita warga, dan di dalam pengalaman hidup itu sendiri.

Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.

Bagikan