Petualangan selalu membawa ketidakpastian. Jalan bisa licin, cuaca berubah, medan tidak selalu mudah, dan anak mungkin menghadapi situasi yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Bagi Jelajah Selindu, kondisi tersebut bukan sekadar tantangan dalam perjalanan, tetapi bagian dari pengalaman belajar yang penting bagi tumbuh kembang anak.
Dalam kegiatan jelajah alam, anak belajar mengenali keadaan, mempertimbangkan pilihan, mengikuti aturan, berjalan bersama kelompok, mengetahui kapan harus berhenti, dan memahami kapan membutuhkan bantuan. Anak tidak dididik untuk hidup tanpa risiko, tetapi dibekali kemampuan untuk mengenali, mempertimbangkan, dan mengelola risiko sesuai usia dan kemampuannya.
“Petualangan bukan tentang membuat anak menghadapi bahaya. Petualangan adalah memberikan tantangan yang terukur agar anak belajar membaca keadaan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya,” kata Makrus Sahlan, Penggerak Navora Group.
Menurutnya, pendampingan orang dewasa tetap penting. Tantangan perlu disesuaikan dengan usia, kondisi lingkungan, dan kemampuan anak. Pendamping tidak harus menghilangkan seluruh kesulitan, tetapi memastikan anak berada dalam ruang yang aman untuk mencoba dan belajar.
Di titik inilah petualangan bertemu dengan outdoor learning. Belajar di luar ruang bukan sekadar memindahkan kegiatan kelas ke halaman, melainkan menjadikan lingkungan sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan. Anak dapat mengamati tanaman di kebun, membaca kondisi sungai, memetakan potensi dusun, atau belajar tentang keterampilan dan ekonomi masyarakat dengan mengunjungi pelaku usaha maupun pengrajin lokal.
Pengalaman tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi kegiatan membaca, mencatat, berdiskusi, membuat karya, memotret, menulis cerita, atau menyusun kesimpulan. Perjalanan tidak berhenti ketika anak kembali pulang. Pengalaman dibawa menjadi pengetahuan.
“Anak melihat, mengalami, lalu bertanya. Dari sana kita bisa membantu mereka menemukan pengetahuan. Jadi alam bukan sekadar tempat bermain, tetapi ruang belajar yang membuat apa yang dipelajari terasa dekat dengan kehidupan,” ujar Makrus.
Melalui pendekatan tersebut, Jelajah Selindu ingin membangun pengalaman belajar yang menghubungkan alam, petualangan, literasi, dan kehidupan sehari-hari. Anak belajar berani tanpa ceroboh, berhati-hati tanpa takut, dan mandiri tanpa merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Sebab dunia nyata tidak selalu menyediakan petunjuk langkah demi langkah. Anak perlu tumbuh dengan kemampuan untuk melihat keadaan, berpikir, mengambil keputusan, dan belajar dari pengalaman.
Bagi Jelajah Selindu, di situlah petualangan menemukan maknanya: bukan sekadar tentang sejauh mana anak berjalan, tetapi seberapa banyak pengetahuan yang mereka temukan sepanjang perjalanan.
Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.