JAWA TIMUR – Mengenal alam bagi anak tidak cukup berhenti pada kekaguman. Melalui kegiatan Jelajah Dusun & Jendela Dunia, anak diajak mengamati lingkungan di sekitarnya, memahami apa yang ditemukan, kemudian belajar merawatnya melalui tindakan sederhana.
Anak yang tertarik melihat bunga dapat belajar menanam dan merawat tanaman. Anak yang bermain di sekitar sungai dapat diajak memperhatikan kebersihan air. Sementara anak yang senang mengamati burung dapat mengenali habitat dan lingkungan yang dibutuhkan untuk hidup.
Gagasan tersebut sejalan dengan penelitian tentang hubungan anak dan alam. Meta-analisis terhadap 169 penelitian dari 43 negara dengan lebih dari 176.000 peserta menemukan bahwa pendidikan lingkungan berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, sikap, niat, dan perilaku pro-lingkungan pada anak dan remaja. Peneliti juga mencatat bahwa hasilnya beragam sehingga pendekatan pendidikan lingkungan perlu disesuaikan dengan konteks dan pengalaman anak.
Kajian lain terhadap 76 penelitian tentang perilaku pro-lingkungan anak usia 6–12 tahun menemukan bahwa kontak dengan alam menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perilaku tersebut. Peneliti juga menekankan perlunya penelitian jangka panjang untuk memahami bagaimana pengalaman dengan alam membentuk perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk belajar menjaga lingkungan. Menyiram tanaman, tidak merusak tumbuhan, memilah sampah, menjaga kebersihan tempat bermain, atau mencatat perubahan di lingkungan sekitar merupakan latihan tanggung jawab yang penting,” kata Wulan, pegiat literasi.
Sejumlah kajian tentang nature connectedness juga menunjukkan hubungan antara kedekatan anak dengan alam, kesejahteraan, dan perilaku ekologis. Namun, kedekatan tersebut tidak cukup dibangun melalui pengetahuan saja. Anak perlu memiliki pengalaman langsung yang bermakna dengan lingkungan.
Karena itu, dalam kegiatan jelajah, anak tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka dapat menjadi pengamat dan pencatat lingkungan: membuat catatan sederhana, memotret perubahan, menggambar, menulis cerita, membuat peta lingkungan, hingga menceritakan kembali apa yang ditemukan kepada keluarga dan teman.
Proses tersebut mempertemukan literasi lingkungan dengan literasi sosial. Anak belajar bahwa lingkungan bukan sekadar sesuatu yang harus dijaga oleh orang dewasa, tetapi merupakan ruang hidup yang mereka kenal dan menjadi bagian di dalamnya.
Alurnya sederhana: alam memunculkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu mendorong pengamatan, pengamatan melahirkan pengalaman, dan pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat tumbuh menjadi kesadaran serta tanggung jawab.
Merawat alam pun tidak harus dimulai dari tindakan besar. Membawa botol minum sendiri, memilah sampah, merawat tanaman, tidak merusak tumbuhan, menjaga kebersihan tempat bermain, atau mengingatkan teman merupakan kebiasaan kecil yang dapat dilatih sejak anak-anak.
Kegiatan jelajah akhirnya bukan hanya tentang perjalanan dan dokumentasi. Setiap pengalaman diharapkan meninggalkan sesuatu: catatan, cerita, karya, pengetahuan baru, atau kebiasaan baik yang dapat dibawa pulang dan dilakukan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
Anak bertemu alam. Keluarga mendampingi. Komunitas menciptakan ruang belajar. Dusun menjadi laboratorium kehidupan. Dari pengalaman yang sederhana itu, anak belajar mengenal lingkungan sekaligus memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari cara menjaga kehidupan.
Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.