Ajak Anak Menemukan Kekayaan yang Hidup

JAWA TIMUR – Setiap dusun memiliki potensi. Tidak selalu berupa tempat wisata, gedung besar, atau usaha dengan omzet tinggi. Potensi dapat ditemukan di kebun warga, dapur keluarga, bengkel kecil, warung kampung, tangan seorang pengrajin, keterampilan seorang ibu, kelompok pemuda, hingga cerita para orang tua yang telah hidup dan bekerja di lingkungan tersebut selama bertahun-tahun.

Melalui kegiatan Jelajah Dusun & Jendela Dunia, anak diajak melihat lingkungan dengan cara yang berbeda. Bukan hanya bertanya apa yang ada di sekitar mereka, tetapi juga siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, pengetahuan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana keterampilan tersebut dapat terus diwariskan.

“Sering kali kita menganggap sesuatu biasa karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Padahal di balik pekerjaan seorang petani, pengrajin, pedagang, atau pembuat makanan tradisional terdapat pengetahuan, pengalaman, keterampilan, sejarah, dan nilai budaya yang bisa menjadi sumber belajar bagi anak,” kata Wulan, pegiat literasi.

Pembelajaran tersebut tidak harus berlangsung di dalam kelas. Seorang petani dapat menjadi sumber belajar tentang tanah, tanaman, musim, dan pangan. Pengrajin dapat mengenalkan bahan, alat, ketelitian, dan proses kreatif. Pedagang dapat berbagi tentang pelanggan dan pengelolaan usaha. Sementara orang tua atau tokoh masyarakat dapat membuka cerita tentang perubahan dusun dari masa ke masa.

Anak dapat belajar melalui wawancara sederhana, mengamati proses kerja, mencoba keterampilan yang aman, mencatat istilah lokal, memotret proses, lalu menuliskan kembali pengalaman mereka. Dengan begitu, kunjungan tidak berhenti pada foto dan cerita singkat, tetapi menghasilkan pengetahuan yang dapat disimpan dan dibagikan kembali.

Pangan lokal menjadi salah satu pintu masuk yang dekat dengan kehidupan anak. Dari singkong, misalnya, anak dapat belajar tentang tanaman, tanah, proses pengolahan, resep keluarga, budaya makan, hingga ekonomi. Dari beras, mereka dapat mengikuti perjalanan dari benih, sawah, petani, penggilingan, pedagang, sampai makanan yang tersaji di meja.

Pertanyaan sederhana seperti “Dari mana makanan ini berasal?”, “Siapa yang membuatnya?”, “Bagaimana prosesnya?” dan “Bagaimana agar tetap ada?” dapat mengubah makanan sehari-hari menjadi bahan pembelajaran.

Begitu pula dengan keterampilan warga. Membuat kerajinan, menjahit, memperbaiki sepeda, mengolah makanan, bertani, merawat tanaman, membuat peralatan, atau mengelola usaha kecil merupakan pengetahuan yang tidak selalu ditemukan dalam buku pelajaran.

Di balik sebuah keterampilan terdapat proses panjang: latihan, kesalahan, kegagalan, ketekunan, pengalaman, dan pengetahuan yang diwariskan. Ketika anak bertemu langsung dengan orang yang memiliki keterampilan tersebut, mereka belajar bahwa kemampuan tidak muncul secara instan.

Pengalaman itu memperluas makna literasi. Anak bukan hanya belajar membaca buku, tetapi juga membaca manusia, pekerjaan, budaya, pangan, lingkungan, dan kehidupan di sekitarnya.

Dusun pun tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal. Ia menjadi ruang belajar yang menyimpan pengetahuan. Kadang-kadang, untuk menemukan sekolah yang mengajarkan kehidupan, anak tidak perlu pergi jauh. Sekolah itu mungkin berada di kebun sebelah rumah, dapur keluarga, bengkel di ujung jalan, warung di dekat rumah, atau pada seorang warga yang selama ini mereka lewati setiap hari.

Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.

Bagikan