Anak Perlu Bertemu Alam Terbuka

Anak-anak hari ini dapat mengenal dunia melalui layar. Gunung, hutan, hewan, bahkan kehidupan di luar angkasa dapat mereka lihat hanya dalam hitungan detik. Namun, di tengah kemudahan tersebut, ada pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi: bertemu langsung dengan alam di sekitar mereka.

Melalui gerakan Jelajah Selindu, anak-anak diajak keluar dari ruang belajar untuk mengamati lingkungan secara langsung. Kebun, halaman rumah, sungai, tanah, pepohonan, hingga berbagai makhluk hidup di sekitar menjadi bagian dari ruang pembelajaran yang memungkinkan anak melihat, menyentuh, mendengarkan, mengamati, dan mengalami secara langsung.

“Anak tidak cukup hanya mengenal alam melalui gambar atau video. Mereka perlu bertemu dengan alam secara langsung, karena dari pengalaman itu muncul rasa ingin tahu. Ketika anak melihat daun, tanah, serangga, sungai atau tanaman, mereka mulai bertanya. Dari pertanyaan itulah proses belajar tumbuh,” kata Makrus Sahlan, praktisi sekolah alam.

Menurutnya, membawa anak ke alam bukan berarti mengurangi waktu belajar. Sebaliknya, lingkungan dapat menjadi ruang belajar terbuka yang mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Anak dapat belajar tentang tumbuhan dengan mengamati kebun, memahami air dengan melihat sungai, atau mengenal kehidupan makhluk kecil dengan mengamati serangga di tanah.

Bagi Jelajah Selindu, pengalaman tersebut merupakan bagian dari cara membangun literasi yang lebih dekat dengan kehidupan. Anak tidak hanya membaca tentang dunia, tetapi juga belajar membaca lingkungan tempat mereka tumbuh. Dari melihat dan mengamati, anak belajar bertanya, mencari tahu, berdialog, mencatat, dan menemukan pengetahuan baru.

“Kalau kita ingin anak peduli terhadap lingkungan, jangan hanya meminta mereka menjaganya. Berikan kesempatan kepada mereka untuk mengenalnya terlebih dahulu. Hubungan dengan alam dimulai dari pengalaman sederhana: keluar, berjalan, melihat, bertanya, dan menemukan,” ujar Makrus.

Melalui pendekatan tersebut, Jelajah Selindu menempatkan alam dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran anak. Dusun tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang belajar yang menyimpan berbagai pengetahuan tentang alam, kehidupan, budaya, pekerjaan, dan potensi lokal.

Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengenal dunia yang jauh melalui layar. Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk mengenal dunia yang paling dekat: halaman rumah, kampung, dusun, alam, dan masyarakat di sekitarnya.

Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.

Bagikan