Bermain hingga Berkisah, Play On Anak Krian 2 Hadirkan Ruang Kreativitas

KRIAN, SIDOARJO — Bagaimana jika belajar tidak selalu berarti duduk diam di dalam kelas? Pertanyaan itu dijawab melalui Play On Anak Krian 2, sebuah ruang belajar berbasis komunitas yang mengajak anak belajar dengan bergerak, bermain, menjelajah, bernyanyi, dan berkisah. Mengusung tema “Jelajah, Bermain, Berkisah”, kegiatan berlangsung di Balai RW 09 Krajan Stasiun, Krian, Minggu (9/8/2026).

Play On Anak Krian 2 mempertemukan anak-anak, orang tua, pemuda, relawan, komunitas, akademisi, dan pemerintah dalam satu ruang interaksi. Beragam aktivitas dirancang untuk menjadikan permainan sebagai medium belajar, mulai dari wood puzzle dan flash card, walking tour dan games, edukasi lingkungan, cinta tanah air, hingga workshop mendongeng. Setiap aktivitas diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas, keberanian, komunikasi, kerja sama, kemandirian, dan kepedulian anak.

Pada sesi edukasi lingkungan, Pepelingasih Kabupaten Sidoarjo mengajak anak mengenal sampah rumah tangga dan pohon melalui permainan serta menggambar. Fasilitator Amelia Martha menilai pengalaman tersebut memberi ruang bagi anak untuk belajar sekaligus berinteraksi secara aktif. “Senang banget bisa ikut Play On Anak Krian. Banyak pengalaman, cerita, dan momen seru yang didapat. Selain menambah teman, kegiatan ini juga bikin aku belajar untuk lebih aktif, kompak, dan berani berkontribusi,” ujarnya.

Perspektif berbeda hadir melalui sesi cinta tanah air yang dipandu Nurul Janah, S.IIP., M.Hum., Dosen Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga. Anak-anak diajak berbicara tentang kegiatan Agustus, mengenal bendera dan lagu kemerdekaan, hingga menyampaikan cita-cita. Menurut Nurul, antusiasme juga datang dari para orang tua yang turut mendampingi. “Kegiatan ini sangat positif sekali dilakukan dengan saling berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan berbagai literasi masyarakat sesuai dengan kebutuhannya,” katanya.

Literasi kemudian hadir melalui workshop mendongeng bersama Darysha Fakhira Hidayatulloh. Materi dasar mendongeng dikemas melalui lagu, permainan, gerakan, dan interaksi langsung. Bagi Darysha, pendekatan tersebut membuat anak lebih mudah menyerap suasana dan materi. “Anak-anak jauh lebih mudah menyerap suasana dan materi ketika diajak berinteraksi langsung lewat lagu dan gerakan dibandingkan hanya mendengarkan secara pasif,” ungkapnya.

Muhammad Azmi Rahman, pendamping program dari Forum TBM Kabupaten Sidoarjo, melihat bermain sebagai bahasa yang paling dekat dengan dunia anak. “Melalui bermain, anak dapat belajar tanpa merasa sedang belajar secara formal,” jelasnya. Karena itu, Play On diarahkan bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi menciptakan pengalaman yang melatih kepercayaan diri, kreativitas, kemandirian, kerja sama, kepedulian, dan kemampuan berkomunikasi.

Kekuatan Play On juga terletak pada kolaborasi lintas komunitas. Kegiatan ini melibatkan Komunitas Marbot Masjid Manarul Iman Krian, Forum TBM Kabupaten Sidoarjo, Sekawan Bumi Foundation, Pepelingasih Kabupaten Sidoarjo, Nareswara Nusantara, Pemuda Lintas Dusun (PLD), Rumah Cerita Darissa, dan Jelajah Selindu. Dukungan tersebut mempertemukan perspektif pendidikan, literasi, lingkungan, kepemudaan, dan pengembangan komunitas dalam satu ruang yang berpusat pada kebutuhan anak.

Udik Arif Muzaiyyin, S.T., M.M., Kepala Kelurahan Krian, turut mendorong keberlanjutan Play On. Ia menyatakan kesiapan pemerintah kelurahan untuk menggerakkan organisasi dan lembaga kemasyarakatan dalam mendukung kegiatan anak dan pemuda. Harapannya, kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi ikut membangun budaya literasi, kebersamaan, dan solidaritas di tengah masyarakat.

Play On Anak Krian 2 menunjukkan bahwa pendidikan dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana ketika komunitas mau membuka kesempatan bagi anak untuk mengalami, mencoba, bertanya, dan berkarya. Sebuah puzzle mengajarkan ketekunan, perjalanan mengajarkan keberanian, permainan mengajarkan kerja sama, dan cerita mengajarkan anak untuk memahami dunia dari sudut pandangnya sendiri.

Pada akhirnya, “Jelajah, Bermain, Berkisah” bukan sekadar tema, melainkan sebuah cara pandang tentang bagaimana anak seharusnya diberi ruang untuk tumbuh. Karena setiap anak membutuhkan lebih dari sekadar tempat belajar mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, teman untuk bertumbuh, lingkungan untuk dijelajahi, dan cerita yang membuat mereka percaya bahwa masa depan juga bisa mereka ciptakan sendiri.

Bagikan