Di tengah banjir informasi digital yang datang tanpa henti, masyarakat justru menghadapi krisis yang semakin nyata: rendahnya minat baca, cepatnya penyebaran hoaks, hingga melemahnya budaya berpikir kritis. Media sosial dipenuhi informasi instan, tetapi ruang diskusi yang sehat dan kebiasaan membaca mendalam perlahan mulai ditinggalkan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi muda bukan hanya kehilangan budaya literasi, tetapi juga kemampuan memahami realitas secara utuh.
Di saat banyak orang sibuk mengeluhkan rendahnya budaya baca, para pegiat Taman Baca Masyarakat (TBM) justru memilih bergerak. Dari kampung ke kampung, dari sudut dusun – desa hingga ruang-ruang komunitas, mereka menghadirkan harapan melalui gerakan literasi berbasis masyarakat. Semangat itulah yang kemudian dipertemukan dalam Jambore Literasi Taman Baca Masyarakat (TBM) Jawa Timur 2026 yang digelar Forum TBM Jawa Timur di TBM Al-Madinah, Jumat–Sabtu (15–16/5).
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang konsolidasi gerakan literasi akar rumput yang mempertemukan pegiat TBM dari berbagai daerah untuk berbagi gagasan, memperkuat jejaring, serta merumuskan masa depan literasi masyarakat di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.
Dalam sesi refleksi budaya dan literasi, Widi dari Kampoeng BATARA Banyuwangi menyampaikan bahwa budaya lokal merupakan anugerah yang tak ternilai bagi masyarakat. Menurutnya, budaya tidak hanya sekadar berbicara tentang identitas daerah, tetapi menjadi sumber nilai, keluhuran budi, dan arah kehidupan sosial masyarakat yang harus dijaga bersama.
Ia menegaskan bahwa gerakan literasi seharusnya tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca buku, tetapi juga menjadi ruang merawat ingatan budaya, tradisi lokal, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Baginya, kampung, tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai gotong royong adalah bagian dari kekayaan literasi yang perlu terus dihidupkan di tengah derasnya arus modernisasi.
Pesan tersebut memperkuat semangat para pegiat TBM bahwa literasi bukan hanya soal kecakapan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami akar budaya, membangun kesadaran sosial, dan menjaga jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.
Kampoeng Batara bisa dikenal lebih dekat di berbagai artikel berikut: https://www.instagram.com/kampoengbatara.id/
https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/pendidikan-karakter-yang-memerdekakan-anak-anak-di-kampoeng-batara
https://regional.kompas.com/read/2021/08/24/160604278/kisah-kampoeng-batara-di-tepi-rimba-banyuwangi-memupuk-rasa-cinta-kampung?page=all
Jejak Perjalanan Jambore Forum Taman Bacaan Masyarakat 2027 akan diselenggarakan di Banyuwangi. Semoga Terus bergerak, serempak dan berdampak…