Belajar tidak hanya terjadi di sekolah. Pasar dapat menjadi ruang belajar matematika, kebun menjadi tempat mengenal sains, cerita warga membuka pengetahuan tentang sejarah lokal, sementara pertemuan dengan pengrajin mengenalkan keterampilan dan kreativitas.
Melalui kegiatan Jelajah Dusun & Jendela Dunia, Jelajah Selindu mendorong anak untuk mengenali lingkungan sebagai sumber pembelajaran. Sekolah, buku, dan guru tetap memiliki peran penting, tetapi pengalaman langsung membantu anak menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Anak tidak cukup hanya diajak mengunjungi tempat baru atau mengikuti kegiatan yang menyenangkan. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk mengamati, bertanya, mencoba, dan memahami apa yang dialaminya.
Makrus Sahlan, pegiat literasi, menekankan pentingnya menempatkan anak sebagai peserta aktif dalam proses belajar. Anak bukan sekadar penerima informasi, melainkan individu yang memiliki rasa ingin tahu, pengalaman, imajinasi, dan gagasan yang perlu dikembangkan.
Ketika mengunjungi kebun, misalnya, pendamping dapat memulai dengan pertanyaan, “Apa yang kalian temukan?” atau “Mengapa hal itu bisa terjadi?” Anak diberi ruang untuk mengamati dan menyampaikan dugaan, sementara pendamping membantu mengarahkan pencarian informasi, meluruskan kesalahpahaman, serta memastikan kegiatan berlangsung aman.
Proses belajar kemudian dilanjutkan dengan mengolah pengalaman menjadi pengetahuan. Anak dapat berdiskusi, membandingkan temuan, melakukan percobaan sederhana, mencatat hasil pengamatan, hingga menyusun kesimpulan berdasarkan informasi yang diperoleh.
Pengalaman tersebut juga dapat diubah menjadi karya. Perjalanan ke pasar dapat menghasilkan cerita atau pemetaan aktivitas ekonomi. Kunjungan ke kebun dapat melahirkan gambar, catatan pertumbuhan tanaman, atau eksperimen sederhana. Sementara pertemuan dengan warga dapat menghasilkan tulisan, puisi, rekaman wawancara, maupun dokumentasi cerita lokal.
Karya bukan sekadar hasil akhir kegiatan. Proses pembuatannya melatih anak memilih informasi, menyusun gagasan, mengungkapkan pemahaman, dan membagikan pengetahuan kepada orang lain. Karya mereka dapat dipamerkan, dibacakan, diterbitkan, atau didokumentasikan dengan tetap memperhatikan privasi dan keselamatan anak.
Dengan demikian, perjalanan belajar tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Anak membawa pulang pengetahuan, pertanyaan baru, dan pengalaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Mengalami, mengamati, bertanya, mengolah, berkarya, dan merefleksikan menjadi rangkaian yang membantu anak memahami bahwa belajar bukan hanya tentang menghafal informasi, tetapi juga menemukan makna dari kehidupan di sekitarnya.
Ketika setiap perjalanan memberi ruang untuk berpikir dan berkarya, lingkungan tidak lagi sekadar menjadi tempat yang dikunjungi. Ia menjadi sumber pengetahuan yang terus membuka kemungkinan belajar.
Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.