Duta Kesehatan Remaja Sidoarjo Berani Ngobrol Kesehatan Mental Bersama Orang Tua

Duta Kesehatan Remaja Sidoarjo: TBM Bisa Jadi Ruang Aman Remaja Bahas Kesehatan Mental dan Bullying

Isu kesehatan mental dan perundungan (bullying) pada remaja dinilai perlu dibahas di ruang-ruang literasi berbasis komunitas seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Hal ini disampaikan oleh Faldan Septian Mozes, perwakilan Duta Kesehatan Remaja Sidoarjo, saat terlibat dalam kegiatan Sambang TBM Crita Nirwana.

Menurut Faldan, TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga dapat menjadi ruang aman bagi remaja untuk berdiskusi dan saling berbagi pengalaman.

“Banyak remaja yang belum berani bercerita di rumah atau sekolah. Di TBM, mereka bisa mendapatkan informasi, berdiskusi, dan merasa tidak sendirian,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dampak bullying terhadap kesehatan mental remaja sangat serius. Perundungan dapat memicu rasa rendah diri, kecemasan, ketakutan bersosialisasi, hingga hilangnya kepercayaan diri.

“Banyak korban yang akhirnya menarik diri, prestasi menurun, dan merasa tidak berharga, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah dukungan,” tambahnya.

Faldan juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dan lingkungan dalam mengenali tanda-tanda awal perundungan, seperti perubahan sikap menjadi lebih pendiam, mudah marah, sering menyendiri, malas ke sekolah, penurunan prestasi, hingga kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Dalam konteks ini, remaja sebaya memiliki peran strategis sebagai sistem dukungan pertama.

“Korban sering kali lebih nyaman bercerita ke temannya. Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, menemani, dan mengajak mencari bantuan sudah sangat berarti,” katanya.

Pada kegiatan Sambang TBM Crita Nirwana, Duta Kesehatan Remaja Sidoarjo mengisi rangkaian aktivitas berupa sharing session kesehatan mental, diskusi interaktif tentang bullying, serta edukasi ringan melalui permainan dan sesi tanya jawab. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena dekat dengan keseharian remaja.

“Suasana santai membuat mereka lebih terbuka dan berani bicara. Pesan edukasi jadi lebih mudah dipahami dan diterima,” jelas Faldan.

Ia berpesan kepada para remaja agar tidak mengabaikan kondisi mental diri sendiri maupun orang lain.

“Merasa sedih, capek mental, atau butuh bantuan itu wajar. Jangan ragu untuk bercerita dan minta tolong. Kita juga harus lebih peka, karena tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar sedang baik-baik saja,” pesannya.

Ke depan, Faldan berharap kolaborasi lintas komunitas seperti ini terus diperluas.

“Literasi kesehatan mental seharusnya menjadi gerakan bersama. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar dampak positif yang bisa dirasakan oleh remaja,” pungkasnya.

Bagikan