Jelajah Selindu Ajak Anak Menjadikan Alam sebagai Laboratorium Kehidupan

JAWA TIMUR – Di tengah kebiasaan anak mengenal dunia melalui layar, Jelajah Selindu mengajak mereka kembali belajar dari lingkungan terdekat: pohon, tanah, air, langit, kebun, dan kehidupan di sekitar rumah. Alam diposisikan bukan sekadar tempat bermain, tetapi sebagai ruang pengalaman untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Sekolah alam banyak mengajarkan praktik baik dalam menjaga lingkungan. Anak tidak hanya diberi tahu bahwa alam harus dijaga, tetapi diajak mengalami, merawat, dan memahami hubungan manusia dengan lingkungannya. Dari sana mereka juga belajar memaknai kehidupan,” kata Wulan, pegiat literasi.

Melalui kegiatan jelajah, anak dapat mengamati pertumbuhan tanaman, melihat kondisi air, memperhatikan serangga, membaca perubahan cuaca, hingga mengenali kehidupan yang tersembunyi di dalam tanah. Aktivitas sederhana tersebut mendorong anak untuk mengamati, bertanya, membandingkan, mencatat, dan menemukan kesimpulan. Proses ini menjadi latihan awal berpikir ilmiah sekaligus cara mengenalkan anak pada persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dalam proses tersebut, pendamping dewasa memiliki peran penting, tetapi bukan untuk mengatur seluruh kegiatan anak. Pendamping memastikan lokasi dan aktivitas sesuai dengan usia serta kondisi anak, mengenalkan aturan keselamatan, mengawasi ketika anak menghadapi medan atau benda yang berisiko, dan turun tangan ketika bantuan memang diperlukan. Pada saat yang sama, pendamping memberi ruang kepada anak untuk memilih, mencoba, mengamati, dan menemukan jawaban sendiri.

Pendamping juga berperan sebagai pemantik rasa ingin tahu. Alih-alih langsung memberikan jawaban, orang dewasa dapat mengajak anak memperhatikan lebih dekat dengan pertanyaan sederhana: “Apa yang kamu lihat?”, “Mengapa bisa seperti itu?”, “Apa yang mungkin terjadi kalau airnya tidak ada?” atau “Bagaimana kita bisa mengetahuinya?” Dengan cara ini, pengalaman bermain dan menjelajah berkembang menjadi proses berpikir.

“Orang dewasa tidak perlu mengambil alih setiap penemuan anak. Tugasnya memastikan aman, memberi batas ketika diperlukan, lalu membantu anak berpikir dari apa yang mereka lihat dan alami. Anak perlu ruang untuk mencoba agar pengalaman itu benar-benar menjadi miliknya,” ujar Wulan.

Alam juga memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui permainan. Batang kayu, batu, daun, dan tanah dapat menjadi media eksplorasi dan karya. Anak bergerak, berimajinasi, bekerja sama, mengenali kemampuan tubuh, serta belajar menghadapi tantangan dengan pendampingan yang proporsional.

Bagi Jelajah Selindu, pengalaman tersebut perlu diteruskan menjadi sesuatu yang bermakna. Hasil pengamatan dapat dituangkan dalam catatan, foto, cerita, karya, atau aksi sederhana untuk merawat lingkungan. Dengan demikian, kegiatan di alam tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi menjadi bagian dari proses pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan tindakan.

Mendekatkan anak dengan alam pada akhirnya bukan hanya tentang mengenalkan lingkungan. Anak belajar memahami tempat ia hidup, mengenali hubungan manusia dengan alam, dan menemukan makna kehidupan melalui pengalaman langsung.

Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.

Bagikan