Ramadan selalu menghadirkan dua arus besar dalam kehidupan sosial kita. Arus pertama adalah arus konsumsi. Jalanan dipenuhi pemburu takjil, pusat perbelanjaan ramai, promosi berseliweran di media sosial. Orang berlomba menghadirkan meja berbuka yang melimpah. Ramadan menjadi musim perputaran uang yang cepat dan dinamis.
Di tengah riuh rendah transaksi musiman, Makrus Sahlan pegiat literasi Jawa Timur, Founder Jelajah Selindu, sekaligus Guru Keliling Desa memilih berdiri di arus kedua. Jika banyak orang menambah daftar belanja, ia menambah daftar bacaan. Jika sebagian sibuk memikirkan menu berbuka, ia memikirkan menu pengetahuan untuk anak-anak desa.
Inilah komparasi sederhana namun bermakna: Ramadan sebagai festival konsumsi, atau Ramadan sebagai laboratorium pemberdayaan.
Bagi sebagian orang, sore hari di bulan Ramadan adalah waktu berburu kuliner. Namun bagi Makrus, sore hari bisa berubah menjadi ruang literasi. Ia membuka “Lapak Baca Ramadan”, menyediakan buku islami ringan, bacaan anak bertema Ramadan, hingga kisah-kisah inspiratif.
Perbedaannya jelas. Jika takjil habis dalam hitungan menit, buku bisa hidup bertahun-tahun dalam ingatan pembacanya.
Lapak baca bukan sekadar jual beli. Ia adalah ruang interaksi sosial. Anak-anak datang bukan hanya membeli atau menyewa buku, tetapi juga berdiskusi. Orang tua yang awalnya hanya mengantar, perlahan ikut tertarik melihat isi bacaan.
Di sinilah Ramadan mengalami pergeseran makna: dari aktivitas konsumtif menjadi aktivitas produktif.
Makrus juga menyediakan sistem sewa buku anak. Jika di luar sana orang berlomba membeli barang baru, di lapak ini anak-anak belajar berbagi bacaan. Sistem sewa menjadi solusi inklusif bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ramadan pun tidak hanya mengajarkan menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan empati dan akses pendidikan.
Banyak orang gemar bersedekah di bulan Ramadan. Itu tentu baik. Namun Makrus mencoba menggeser pola dari sedekah konsumtif menjadi sedekah produktif.
Melalui paket donasi buku untuk TPQ, masyarakat dapat menyumbang bacaan islami anak yang akan digunakan dalam jangka panjang. Jika makanan sedekah habis dalam sehari, buku donasi bisa dibaca berulang kali oleh generasi berbeda.
Komparasinya sederhana: memberi ikan atau memberi kail. Buku adalah kail peradaban.
Program ini membangun ekosistem sosial. Ada yang berdonasi, ada yang mengelola, ada yang membaca. Semua terhubung dalam satu jaringan kebaikan. Inilah yang oleh Makrus disebut sebagai “menambah pipa Indonesia” membangun saluran-saluran kecil yang mengalirkan pengetahuan ke pelosok desa.
Di banyak tempat, Ramadan identik dengan jadwal buka bersama dan belanja kebutuhan Lebaran. Namun di desa binaan Makrus, Ramadan juga berarti Kelas Inspirasi.
Ia mengadakan kajian mini berbayar dengan konsumsi sederhana. Bukan untuk komersialisasi nilai agama, melainkan untuk membangun kemandirian kegiatan. Peserta membayar secukupnya, dana digunakan untuk keberlanjutan program literasi.
Selain itu, ada workshop menulis Ramadan. Anak muda diajak menulis refleksi puasa mereka. Jika biasanya media sosial dipenuhi unggahan makanan, kini diisi dengan gagasan dan cerita pengalaman spiritual.
Makrus juga mengadakan pelatihan UMKM kecil. Ramadan memang musim dagang, tetapi tidak semua pedagang memahami strategi pemasaran dan pengelolaan keuangan. Pelatihan sederhana tentang kemasan, branding, dan perhitungan laba menjadi bekal berharga.
Perbandingannya terasa nyata: dari sekadar menjual produk menjadi memahami nilai produk. Dari hanya berdagang menjadi membangun usaha berkelanjutan.
Di era digital, banyak orang memanfaatkan Ramadan untuk promosi instan. Makrus memilih memanfaatkan keterampilan digitalnya untuk mendukung UMKM desa.
Melalui jasa desain dan konten Ramadan, ia membantu membuat poster kajian, desain ucapan, dan template promosi produk. Jika sebagian orang sibuk memproduksi konten konsumtif, ia membantu memproduksi konten edukatif dan produktif.
Literasi tidak lagi hanya tentang membaca buku, tetapi juga membaca peluang dan menguasai visual komunikasi. Anak-anak muda desa diajak belajar desain dasar. Ramadan menjadi kelas kreatif terbuka.
Sementara banyak pedagang mengambil risiko besar dengan menumpuk stok barang musiman, Makrus memilih sistem dropship untuk mukena, sarung, peci, hampers Ramadan, dan paket alat ibadah anak.
Model ini minim risiko, tetapi tetap memberi peluang penghasilan. Produk yang dijual pun sejalan dengan nilai Ramadan. Bahkan, pada hampers tertentu ia menyisipkan buku doa kecil sebagai sentuhan literasi.
Di sini terlihat jelas perbedaannya: bukan hanya menjual barang, tetapi menjual nilai.
Di balik semua program itu, Makrus tetap menjalankan perannya sebagai Guru Keliling Desa. Ia menyapa anak-anak, berdialog dengan orang tua, dan menguatkan pentingnya pendidikan.
Ramadan tidak menghentikan langkahnya; justru memperluas maknanya.
Jika sebagian orang melihat Ramadan sebagai puncak pengeluaran tahunan, Makrus melihatnya sebagai puncak kesempatan membangun modal sosial. Jika ada yang menambah isi lemari, ia menambah isi perpustakaan kecil desa.
Komparasi ini bukan untuk menghakimi pilihan siapa pun. Melainkan untuk menunjukkan bahwa Ramadan menyimpan banyak kemungkinan. Ia bisa menjadi bulan konsumsi, atau bulan kontribusi.
Makrus Sahlan membuktikan bahwa menambah penghasilan selama Ramadan tidak harus lepas dari nilai. Ia memadukan literasi, ekonomi, dan spiritualitas dalam satu gerak sosial.
Lapak Baca Ramadan, kelas inspirasi, donasi buku, jasa desain, hingga dropship perlengkapan ibadahsemuanya bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi strategi pemberdayaan.
Di tengah riuh pasar musiman, ia memilih membangun pasar gagasan. Di antara diskon dan promosi, ia menawarkan refleksi dan pendidikan.
Ramadan pun menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia berubah menjadi perjalanan sosial di mana keberkahan tidak hanya diukur dari laba yang diperoleh, tetapi dari dampak yang ditinggalkan. Gerbang Nusantara di desa-desa Jawa Timur itu, pipa-pipa kecil kebaikan sedang terus mengalir pelan, tetapi pasti.