Membaca di Negara Maju dan Berkembang: Berbeda Tantangan, Sama Kebutuhan

Seorang anak bisa saja sudah lancar membaca, tetapi belum tentu mampu memahami apa yang dibacanya. Ia dapat mengeja kalimat dengan benar, menyelesaikan satu halaman buku, bahkan menjawab pertanyaan sederhana. Namun ketika diminta menjelaskan maknanya, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, atau membedakan informasi yang benar dan keliru, ia bisa kembali kebingungan.

Pengalaman seperti ini penting karena persoalan membaca ternyata tidak hanya terjadi di satu negara atau satu kelompok masyarakat. Di negara berkembang seperti Indonesia, tantangannya masih berkaitan dengan penguatan kemampuan membaca dasar dan pemahaman teks. Sementara di negara-negara dengan sistem pendidikan yang lebih maju, tantangannya bergerak ke tingkat yang semakin kompleks: bagaimana anak memahami informasi yang berlimpah, membandingkan berbagai sumber, mengenali fakta dan opini, serta berpikir kritis di tengah derasnya arus digital.

Data PISA 2025 memperlihatkan gambaran tersebut. Skor membaca Indonesia berada pada 365, sementara rata-rata OECD 461 dan Singapura 535. Hanya sekitar 27% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, dibandingkan 69% rata-rata OECD dan 86% di Singapura. Di sisi lain, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai sekitar 6% dan Singapura 22%.

Namun data itu juga memberi pesan penting: negara maju pun tidak sedang baik-baik saja dalam urusan membaca. Rata-rata kemampuan membaca negara-negara OECD turun 14 poin antara 2022 dan 2025, sementara dalam rentang 2015–2025 penurunannya mencapai 28 poin. OECD mencatat bahwa kemampuan yang semakin penting saat ini justru mencakup mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis terhadap apa yang dibaca.

Artinya, perbedaan antara negara berkembang dan negara maju bukan berarti yang satu membutuhkan membaca sedangkan yang lain tidak. Keduanya membutuhkan manusia yang mampu membaca untuk memahami dunia. Bedanya terletak pada titik persoalannya. Indonesia masih harus memperkuat fondasi literasi, sementara negara-negara dengan capaian tinggi harus memastikan kemampuan membaca tetap kuat ketika anak hidup dalam lingkungan informasi yang semakin cepat, digital, dan kompleks.

Di sinilah membaca perlu ditempatkan lebih jauh daripada sekadar aktivitas membuka buku. Anak membaca tentang tanaman, lalu melihat tanaman di halaman rumah. Ia membaca tentang pangan, lalu bertemu orang yang menanam atau mengolahnya. Ia membaca tentang budaya, lalu mendengar cerita langsung dari warga yang menjaganya. Ia membaca tentang lingkungan, lalu keluar dan mengamati sungai, kebun, jalan, atau ruang hidup di sekitarnya.

Bacaan menjadi titik berangkat. Setelah itu muncul pertanyaan, perjalanan, percakapan, pengamatan, pencatatan, dan kesimpulan. Membaca → bertanya → menjelajah → menemukan → mencatat → memahami.

Model seperti inilah yang ingin terus dibangun Jelajah Selindu. Anak tidak hanya diajak membaca dunia melalui buku, tetapi juga membaca buku untuk kemudian memahami dunia yang ada di sekelilingnya. Dusun tidak dipandang sekadar sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai laboratorium pembelajaran yang menyimpan pengetahuan tentang alam, pekerjaan, pangan, budaya, sejarah, kreativitas, hingga potensi ekonomi masyarakat.

Karena itu, kegiatan Jelajah Dusun & Jendela Dunia bukan sekadar mengajak anak berjalan-jalan. Anak belajar mengamati lingkungan, bertanya kepada warga, mengenali profesi, menemukan potensi lokal, mendokumentasikan cerita, lalu mengubah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan. Buku membuka jendela; lingkungan memberikan pengalaman; dan anak belajar menghubungkan keduanya.

Pada akhirnya, persoalan literasi bukan hanya tentang seberapa banyak halaman yang mampu diselesaikan seorang anak. Yang jauh lebih penting adalah apakah setelah membaca ia menjadi lebih mampu memahami, bertanya, memeriksa, menghubungkan, dan mengambil keputusan.

Bagikan