Banyak potensi lokal sebenarnya sudah hidup di tengah masyarakat. Yang sering dibutuhkan adalah orang yang mampu mempertemukan potensi tersebut dengan generasi muda dan ruang belajar yang relevan.
Melalui kegiatan Jelajah Dusun & Jendela Dunia, pemuda didorong mengambil peran sebagai penghubung antara anak dengan pelaku usaha lokal, antara pengetahuan warga dengan teknologi, serta antara cerita dan keterampilan masyarakat dengan media yang lebih mudah diakses generasi sekarang.
Pemuda dapat membantu mendokumentasikan potensi dusun, membuat katalog sederhana, mengembangkan konten digital, membuka kelas, menghubungkan warga dengan komunitas, hingga mendampingi anak dalam mengenali lingkungan mereka.
“Pemuda tidak harus mengambil alih potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Perannya justru membantu agar pengetahuan, keterampilan, dan potensi tersebut dapat terdokumentasi, dipelajari, dikenal lebih luas, dan tetap berkembang sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Wanda, pegiat literasi.
Pendekatan tersebut membuat potensi lokal tidak berhenti sebagai sesuatu yang sekadar “ada”. Kebun dapat menjadi ruang belajar sains. Pengrajin dapat menjadi sumber belajar keterampilan. UMKM dapat memperkenalkan matematika dan kewirausahaan. Sungai dapat menjadi laboratorium lingkungan. Pasar dapat menjadi tempat belajar ekonomi. Sementara cerita warga dapat menjadi pintu masuk sejarah lokal.
Anak kemudian tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya pelajari?”, tetapi mulai menemukan pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupannya: “Apa yang bisa saya pelajari dari tempat saya berada?”
Dalam prosesnya, anak dapat mewawancarai warga, mengamati pekerjaan, mencatat pengetahuan lokal, membuat dokumentasi, atau mengubah pengalaman menjadi cerita dan karya. Pemuda dapat berperan sebagai mentor, fasilitator, dokumentator, sekaligus teman tumbuh yang membantu anak menghubungkan pengalaman tersebut dengan pengetahuan yang lebih luas.
Pengalaman mengenal potensi lokal juga dapat membantu anak mengenali dirinya sendiri: apa yang disukai, keterampilan apa yang ingin dikuasai, persoalan apa yang ingin dipahami, dan dengan siapa mereka dapat bekerja.
Tujuannya bukan membuat semua anak harus tinggal atau bekerja di daerah asalnya. Dunia tetap terbuka luas dan setiap anak berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun mengenal tempat tumbuh dapat memberikan akar sekaligus pijakan ketika mereka kelak menjelajah lebih jauh.
Dengan demikian, mengenal potensi lokal bukan sekadar kegiatan melihat apa yang ada di sekitar. Anak belajar membaca kehidupan, menghargai pengetahuan masyarakat, menemukan kemungkinan untuk belajar dan berkarya, serta memahami hubungan antara dirinya dengan lingkungan sosialnya.
Berakar pada tempat sendiri, terbuka terhadap dunia.
Dari dusun, anak belajar melihat dunia. Dari dunia, mereka membawa pulang pengetahuan. Dari pengetahuan itulah pengalaman belajar dapat berkembang menjadi kreativitas, kontribusi, dan kemandirian.
Jelajah Selindu
Dari Dusun, Untuk Indonesia Mendunia.