Ada satu kekuatan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak-anak di lingkungan kita, tetapi sering kali belum dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan: pemuda.
Mereka ada di sekitar anak. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, mengenal bahasa keseharian yang sama, memahami permainan yang sedang digemari, mengenal jalan-jalan kampung, lapangan, balai dusun, taman baca, tempat ibadah, hingga ruang-ruang kecil tempat anak biasa bermain dan berkumpul. Mereka mungkin bukan guru, bukan orang tua, dan bukan tenaga pendidikan formal. Namun justru kedekatan itulah yang membuat pemuda memiliki posisi strategis untuk menjadi teman tumbuh bagi anak.
Bagi Jelajah Selindu, pendidikan tidak pernah berhenti di ruang kelas. Anak belajar ketika membaca buku, tetapi juga ketika bermain bersama teman, berjalan menyusuri dusun, bertemu orang baru, menyelesaikan persoalan kecil, mendengar cerita warga, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan, atau menemukan bahwa dirinya ternyata mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit. Karena itu, membangun ekosistem pendidikan anak juga berarti membuka lebih banyak ruang perjumpaan yang sehat antara anak, keluarga, pemuda, dan masyarakat.
Pemuda Tidak Harus Menjadi Guru
Membicarakan keterlibatan pemuda dalam pendidikan anak tidak berarti menjadikan setiap pemuda sebagai guru. Tidak semua pemuda memiliki latar belakang pendidikan, tidak semua mampu mengajar secara akademik, dan tidak semuanya harus berdiri di depan kelas. Peran yang dibutuhkan justru bisa jauh lebih sederhana: menjadi kakak yang mau menemani, teman bermain yang aman, pendamping ketika anak mencoba sesuatu, fasilitator kegiatan, teman berdiskusi, atau orang dewasa yang bersedia mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.
Dalam pendekatan positive youth development, hubungan yang positif dan kesempatan untuk terlibat secara aktif menjadi bagian penting dalam membantu anak dan remaja berkembang. Dukungan dari orang dewasa yang peduli, lingkungan sosial yang positif, serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan komunitas merupakan faktor yang dapat memperkuat perkembangan mereka.
Di sinilah peran pemuda menjadi menarik. Mereka berada pada posisi yang cukup dewasa untuk menjadi teladan, tetapi pada saat yang sama masih cukup dekat dengan dunia anak dan remaja untuk memahami bahasa, kegemaran, kegelisahan, dan cara mereka berinteraksi. Kedekatan tersebut bukan pengganti peran orang tua maupun guru, melainkan pelengkap yang memperkaya lingkungan tumbuh anak.
Anak Membutuhkan Lebih Banyak Orang Baik di Sekitarnya
Seorang anak tidak tumbuh hanya dari satu hubungan. Ia tumbuh dari jaringan hubungan yang membentuk rasa aman, kepercayaan diri, keberanian mencoba, kemampuan berkomunikasi, dan cara memandang dirinya sendiri maupun lingkungan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah anak memiliki sekolah yang baik, tetapi juga apakah setelah pulang sekolah mereka menemukan lingkungan yang memberi kesempatan untuk bertumbuh.
Apakah ada orang yang mau mendengarkan cerita mereka? Apakah ada ruang bagi mereka untuk bertanya tanpa takut ditertawakan? Apakah ada orang dewasa yang mengenali potensi mereka? Apakah ada kegiatan yang membuat mereka merasa dibutuhkan? Apakah mereka memiliki kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba kembali?
Penelitian mengenai mentoring menunjukkan bahwa relasi yang penuh perhatian, konsisten, empatik, dan berlangsung secara berkelanjutan dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan anak dan remaja. Mentoring tidak selalu berbentuk program formal; yang terpenting adalah hadirnya relasi yang memberikan dukungan, arahan, teladan, dan kesempatan bagi anak untuk berkembang.
Maka, seorang pemuda yang bersedia hadir secara konsisten dalam kehidupan komunitas sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar membantu sebuah acara. Ia sedang membangun relasi.
selain itu dari relasi itulah pendidikan sering kali bekerja dengan cara yang paling manusiawi.
Ruang Kecil Bisa Menjadi Ruang Belajar yang Besar
Kita terlalu sering mengukur pendidikan melalui gedung, fasilitas, kurikulum, atau kegiatan yang terlihat besar. Padahal, bagi anak, sebuah sore di halaman rumah, permainan di lapangan dusun, perjalanan menyusuri kampung, kegiatan membaca bersama, membuat karya, menanam sesuatu, atau percakapan dengan seorang kakak pemuda bisa menjadi pengalaman belajar yang sangat berarti.
Jelajah Selindu memandang ruang-ruang semacam itu sebagai bagian dari ekosistem belajar masyarakat. Literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca teks. Anak juga perlu belajar membaca lingkungan, membaca situasi, membaca perasaan orang lain, membaca persoalan di sekitarnya, dan kemudian menemukan keberanian untuk mengambil bagian dalam menyelesaikannya.
Karena itu, kegiatan komunitas seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Acara apa yang akan kita buat?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Pengalaman tumbuh apa yang ingin kita berikan kepada anak?”
Perubahan sudut pandang tersebut penting. Sebab kegiatan yang ramai belum tentu menjadi pengalaman yang bermakna. Sebaliknya, kegiatan yang sederhana dapat meninggalkan pengalaman panjang ketika anak diberi ruang untuk berpartisipasi, mengambil keputusan, bekerja sama, dan merasa bahwa keberadaannya memiliki arti.
Dari Anak yang Didampingi Menjadi Anak yang Berdaya
Pendampingan yang baik bukanlah membuat anak selalu bergantung kepada orang dewasa. Justru sebaliknya, pendampingan seharusnya membantu anak perlahan memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu dengan dirinya sendiri.
Ketika anak diberi kesempatan memimpin permainan, pemuda belajar menahan diri agar tidak selalu mengambil alih. Ketika anak diberi kesempatan menentukan pilihan kegiatan, pemuda belajar mempercayai proses. Ketika anak mengalami konflik dengan temannya, pemuda belajar menjadi fasilitator, bukan hakim. Ketika anak menghasilkan karya yang belum sempurna, pemuda belajar menghargai proses, bukan sekadar mengejar hasil.
Di titik inilah kegiatan sederhana dapat berubah menjadi pendidikan kepemimpinan.
Riset mengenai pengembangan pemuda juga menekankan pentingnya menempatkan anak muda sebagai pihak yang aktif, bukan sekadar objek kegiatan. Mereka dapat dilibatkan dalam merancang, menjalankan, mengevaluasi, bahkan mempresentasikan hasil sebuah program. Keterlibatan semacam itu membantu membangun rasa memiliki, empati, refleksi, dan kapasitas kepemimpinan.
Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam ruang anak. Anak tidak selalu harus menjadi peserta. Sesekali mereka perlu menjadi pengambil keputusan, pembawa acara, penjaga permainan, pembaca cerita, pembuat karya, penjelajah, atau bahkan orang yang mengajari temannya.
Tugas pemuda adalah memastikan ruang tersebut aman dan memberi dukungan ketika anak membutuhkannya.
Pemuda Pun Sedang Bertumbuh
Ada kecenderungan melihat kegiatan sosial sebagai sesuatu yang hanya memberikan manfaat kepada penerima program. Anak dianggap sebagai pihak yang belajar, sedangkan pemuda dianggap sebagai pihak yang mengajar.
Padahal hubungan yang sehat justru memungkinkan keduanya bertumbuh.
Ketika mendampingi anak, pemuda belajar berkomunikasi dengan berbagai karakter. Mereka belajar merencanakan kegiatan, mengelola kelompok, menyelesaikan konflik, membaca kebutuhan lingkungan, bekerja sama dengan keluarga, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap orang lain. Keterampilan tersebut tidak selalu diperoleh melalui ruang pendidikan formal.
Dengan demikian, kegiatan anak sebenarnya juga dapat menjadi ruang pendidikan bagi pemuda.
Pemuda belajar kepemimpinan bukan hanya ketika mengikuti pelatihan kepemimpinan, tetapi ketika harus memastikan sepuluh anak pulang dengan aman. Mereka belajar manajemen bukan hanya dari buku, tetapi ketika harus mengatur kegiatan, membagi tugas, mengelola perlengkapan, dan menyelesaikan persoalan yang muncul di lapangan.
Mereka belajar menjadi pemimpin karena diberi kesempatan untuk melayani.
Dari Pelaksana Kegiatan Menjadi Penggerak Ekosistem
Jelajah Selindu memandang pemuda tidak semestinya berhenti sebagai panitia yang datang ketika ada acara. Peran yang lebih penting adalah menjadi penggerak ekosistem.
Pemuda dapat memulai dari hal yang paling dekat dengan lingkungannya: membuka ruang baca, membuat kegiatan bermain, mengadakan jelajah dusun, mendampingi anak berkarya, menghidupkan kembali permainan tradisional, mengajak keluarga melakukan kegiatan literasi, mengenalkan potensi lingkungan, mendokumentasikan cerita warga, atau menghubungkan anak dengan komunitas dan sumber belajar yang lebih luas.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan gagasan pengembangan pemuda berbasis komunitas yang menempatkan sekolah, keluarga, kelompok sebaya, organisasi, dan masyarakat sebagai lingkungan yang saling berhubungan. Anak tidak tumbuh dalam satu institusi saja; ia tumbuh dalam ekosistem.
Karena itu, membangun anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran. Guru memiliki peran. Pemerintah memiliki tanggung jawab. Komunitas memiliki ruang pengabdian. Dan pemuda memiliki energi yang dapat menghubungkan banyak unsur tersebut.
Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Banyak Kegiatan
Di era ketika komunitas mudah berlomba membuat kegiatan, ada satu hal yang perlu terus diingat: anak tidak membutuhkan kegiatan yang banyak sebanyak mereka membutuhkan pengalaman yang bermakna.
Program yang baik bukan hanya yang menghasilkan foto ramai, sertifikat, atau dokumentasi media sosial. Program yang baik adalah program yang meninggalkan sesuatu di dalam diri anak: keberanian untuk bertanya, kemampuan bekerja sama, rasa percaya diri, kepedulian terhadap lingkungan, pengalaman menyelesaikan masalah, atau sekadar kenangan bahwa pernah ada orang dewasa yang percaya kepada dirinya.
Karena itu, pemuda yang ingin terlibat dalam ruang anak perlu memahami bahwa kedekatan saja tidak cukup. Relasi dengan anak membutuhkan konsistensi, batas yang sehat, kemampuan mendengarkan, kesadaran tentang keamanan anak, serta struktur kegiatan yang jelas. Riset mentoring menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan pendampingan dipengaruhi oleh kualitas relasi, kebutuhan anak, frekuensi interaksi, durasi hubungan, serta dukungan organisasi yang menaunginya. Niat baik saja tidak cukup untuk membangun pendampingan yang berkualitas.
Inilah yang membuat gerakan berbasis komunitas perlu dibangun dengan kesadaran, bukan sekadar semangat.
Saat Pemuda Memilih Hadir
Mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai dari program besar. Bisa jadi ia dimulai dari seorang pemuda yang memilih datang ke sebuah ruang belajar di dusun, duduk bersama anak-anak, membuka buku, bermain, mendengarkan cerita, lalu kembali lagi minggu berikutnya.
Dari perjumpaan yang berulang, kepercayaan tumbuh. Dari kepercayaan, anak mulai berani berbicara. Dari keberanian berbicara, muncul gagasan. Dari gagasan, lahir kegiatan. Dari kegiatan, anak mulai menemukan kemampuan dirinya. Dan ketika semakin banyak anak menemukan bahwa mereka mampu melakukan sesuatu, komunitas perlahan menemukan masa depannya sendiri.
Jelajah Selindu percaya bahwa membangun masa depan tidak selalu harus dimulai dengan membangun sesuatu yang besar. Kadang-kadang, masa depan dimulai dengan menciptakan ruang kecil tempat seorang anak merasa aman untuk bertumbuh.
Di ruang itu, pemuda tidak perlu menjadi pahlawan. Mereka cukup menjadi manusia yang hadir, peduli, mau belajar, dan bersedia berjalan bersama anak-anak.
Sebab ketika pemuda memilih menjadi teman tumbuh anak, yang sedang mereka bangun sesungguhnya bukan hanya masa depan seorang anak. Mereka sedang menyiapkan generasi yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakatnya, sekaligus memperkuat ekosistem tempat mereka sendiri hidup.
Anak tumbuh karena didampingi. Pemuda tumbuh karena diberi kesempatan untuk berarti. Selain itu komunitas tumbuh ketika keduanya dipertemukan dalam ruang yang aman, bermakna, dan terus bergerak.
Itulah semangat Jelajah Selindu: menjadikan perjalanan, perjumpaan, dan ruang-ruang sederhana di masyarakat sebagai bagian dari pendidikan kehidupan.